NU BESAR TAPI RAPUH ADMINISTRASI. M NASUCHA ABI SYAKUR


 NU BUKAN HANYA HARUS BESAR, TETAPI JUGA HARUS BERKUALITAS

Secara jujur, masih banyak di antara kita yang menjadi pengurus organisasi, tetapi belum benar-benar memahami tujuan, fungsi, dan tanggung jawab kepengurusan.
Ada yang kurang mau belajar administrasi, kurang memahami tata kelola organisasi, minim gagasan, dan akhirnya kegiatan organisasi berjalan secara monoton. Ketika menghadapi persoalan, kita sering bingung harus mulai dari mana, apa yang harus dilakukan, dan ke mana arah organisasi hendak dibawa.
Ini bukan persoalan untuk saling menyalahkan. Justru ini menjadi bahan introspeksi bersama.
Menjadi pengurus NU bukan sekadar memiliki nama dalam struktur kepengurusan. Ada tanggung jawab untuk memahami organisasi, belajar administrasi, memahami aturan, menyusun program, membangun komunikasi, serta mampu melahirkan gagasan yang bermanfaat bagi warga.
NU memiliki sejarah, jaringan, kader, lembaga, badan otonom, pesantren, madrasah, masjid, dan jamaah yang sangat besar. Tetapi kebesaran itu harus diikuti dengan kualitas pengelolaan dan kualitas sumber daya manusianya.
Kita tidak boleh merasa cukup hanya karena organisasi memiliki banyak anggota.
NU harus besar dalam jumlah, kuat dalam sistem, tertib dalam administrasi, matang dalam gagasan, dan nyata dalam kemanfaatan.
Karena itu, pengurus harus mau belajar.
Belajar administrasi.
Belajar keorganisasian.
Belajar menyusun program.
Belajar membuat konsep.
Belajar membaca kebutuhan jamaah.
Belajar berkomunikasi dan berkolaborasi.
Dan yang paling penting, belajar memahami untuk apa kita diberi amanah sebagai pengurus NU.
Jangan sampai kita memiliki struktur yang lengkap, tetapi tidak memiliki arah.
Jangan sampai rapat terus berjalan, tetapi gagasan tidak berkembang.
Jangan sampai kegiatan banyak, tetapi administrasi berantakan.
Dan jangan sampai kita bangga dengan besarnya organisasi, sementara kualitas pengurusnya tidak ikut tumbuh.
NU membutuhkan pengurus yang tidak hanya hadir ketika ada acara, tetapi hadir ketika organisasi membutuhkan pikiran, tenaga, gagasan, dan tanggung jawab.
Mari kita ubah cara berpikir:
Dari sekadar menjadi pengurus → menjadi penggerak.
Dari sekadar menjalankan kegiatan → membangun program.
Dari sekadar mengikuti kebiasaan → berani melahirkan gagasan.
Dari sekadar memiliki struktur → membangun sistem.
Dari sekadar besar → menjadi besar dan berkualitas.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan organisasi bukan hanya seberapa besar nama NU disebut, tetapi seberapa besar kemaslahatan yang mampu diwujudkan untuk umat.
#@uchanesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ganti warna rambut

surat permohonan untuk banser